Narasipublik - Tradisi Munggahan menjadi momentum sakral yang senantiasa dijaga sebagai jembatan spiritual sebelum memasuki bulan suci. Lebih dari sekadar perjamuan, tradisi ini merupakan bentuk pembersihan diri dan penguatan ukhuwah yang esensial dalam mendukung dinamika pembinaan warga binaan. Pendekatan kultural ini selaras dengan 15 Program Aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas) Tahun 2026, yang menekankan pentingnya pemenuhan hak beragama secara humanis guna menjaga stabilitas emosional di tengah masa pidana.
Suasana khidmat menyelimuti Aula Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Kerobokan pada Rabu, 18 Februari 2026, saat digelarnya prosesi Munggahan menyambut Ramadan 1447 H. Kegiatan yang diikuti oleh 200 warga binaan muslim dan 50 pegawai ini dihadiri langsung oleh Kepala Lapas (Kalapas) Kelas IIA Kerobokan, Hudi Ismono, beserta jajaran struktural dan petugas pengamanan. Melalui doa bersama dan makan berjamaah, seluruh elemen di dalam Lapas menyatukan niat untuk menjalani ibadah puasa dengan penuh ketenangan dan kedisiplinan.
"Kegiatan ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan jembatan hati untuk mempererat silaturahmi antara petugas dan warga binaan agar ibadah puasa nanti dijalani dengan hati yang bersih," ujar Hudi Ismono dalam sambutannya. Beliau menegaskan bahwa pembinaan kerohanian adalah kunci utama perubahan perilaku yang berkelanjutan dan akan terus ditingkatkan kualitasnya. Harapannya, tradisi ini mampu menyalakan optimisme di balik jeruji, menegaskan bahwa proses pemasyarakatan adalah perjalanan menuju pribadi yang lebih bermartabat dan beriman.
