NarasiPublik – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Amuntai terus mengembangkan program pembinaan kemandirian bagi warga binaan melalui kegiatan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Salah satu produk unggulan yang saat ini diproduksi adalah sapu lidi, yang seluruh proses pembuatannya dikerjakan oleh warga binaan yang mengikuti program pembinaan keterampilan. Rabu, 3 Juni 2026.
Kegiatan produksi sapu lidi ini merupakan bagian dari upaya Lapas Kelas IIB Amuntai dalam membekali warga binaan dengan keterampilan kerja yang bermanfaat dan memiliki nilai ekonomi. Melalui pembinaan tersebut, warga binaan tidak hanya memperoleh pengetahuan dan pengalaman praktis, tetapi juga memiliki kesempatan untuk mengembangkan kemampuan yang dapat menjadi bekal setelah kembali ke tengah masyarakat.
Kepala Lapas Kelas IIB Amuntai, Gusti Iskandarsyah, menyampaikan bahwa program pembinaan kemandirian melalui UMKM merupakan salah satu bentuk komitmen Lapas dalam mendukung proses reintegrasi sosial warga binaan.
“Melalui kegiatan produksi sapu lidi ini, kami berupaya memberikan keterampilan yang produktif dan bernilai ekonomis kepada warga binaan. Harapannya, keterampilan yang diperoleh dapat menjadi modal bagi mereka untuk menjalani kehidupan yang lebih baik setelah selesai menjalani masa pidana,” ujar Gusti Iskandarsyah.
Hasil produksi sapu lidi yang dibuat oleh warga binaan dipasarkan dan dijual kepada masyarakat umum serta pegawai Lapas Kelas IIB Amuntai. Produk yang dihasilkan mendapat respons positif karena memiliki kualitas yang baik dan harga yang terjangkau.
Para warga binaan yang mengikuti program pembinaan produksi sapu lidi mengaku sangat senang dan antusias. Selain mengisi waktu dengan kegiatan yang bermanfaat, mereka juga merasa termotivasi karena dapat menghasilkan produk yang memiliki nilai jual dan diminati oleh masyarakat.
Melalui program pembinaan kemandirian ini, Lapas Kelas IIB Amuntai berharap dapat terus meningkatkan keterampilan, kreativitas, dan produktivitas warga binaan sehingga mereka siap kembali berkontribusi secara positif di lingkungan masyarakat setelah menyelesaikan masa pembinaannya.
