Lestarikan Budaya Banua, Warga Binaan Lapas Narkotika Karang Intan Pelajari Bahasa Banjar


Narasipublik – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkotika Kelas IIA Karang Intan mengenalkan bahasa dan kearifan lokal masyarakat Banjar kepada warga binaan melalui mata pelajaran Muatan Lokal dalam Program Pendidikan Kesetaraan Paket B, Selasa (20/10/2026). Dalam pembelajaran di Ruang Kunjungan Lapas, warga binaan mempelajari penggunaan bahasa daerah, tata krama berkomunikasi, serta nilai-nilai budaya yang masyarakat Kalimantan Selatan junjung dalam kehidupan sehari-hari.

Petugas Lapas Narkotika Kelas IIA Karang Intan sekaligus tutor perpanjangan dari Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Annisa Kecamatan Karang Intan, Rahmat Fahroni, menguraikan hubungan antara bahasa dan kebiasaan masyarakat Banjar. Ia menjelaskan bagaimana masyarakat menggunakan bahasa untuk menunjukkan penghormatan kepada orang lain, terutama ketika berkomunikasi dengan orang yang lebih tua.

Dalam pembahasan materi, Rahmat memperkenalkan sejumlah kosakata bahasa Banjar yang sering muncul dalam percakapan sehari-hari, seperti ulun dan pian. Ia menjelaskan arti dan penggunaan kedua kata tersebut sekaligus mengaitkannya dengan nilai kesopanan dalam lingkungan keluarga maupun masyarakat. Melalui penjelasan tersebut, peserta memperoleh gambaran mengenai hubungan antara pilihan kata, kebiasaan berkomunikasi, dan penghormatan terhadap lawan bicara.

Materi mengenai penggunaan bahasa Banjar turut menarik perhatian salah satu warga binaan berinisial AH. Ia mengaku memperoleh pemahaman baru mengenai sejumlah ungkapan daerah yang sebelumnya sering ia dengar, tetapi belum sepenuhnya ia pahami.

“Saya baru mengetahui bahwa beberapa kata dalam bahasa Banjar memiliki makna yang berkaitan dengan kesopanan. Penjelasan tadi membuat saya lebih memahami bagaimana masyarakat Banjar menghormati orang lain melalui cara berbicara. Banyak pengetahuan baru yang saya dapat dari pelajaran ini,” ungkap AH.

Rahmat menambahkan bahwa pengenalan bahasa daerah juga membantu peserta memahami karakteristik masyarakat melalui kebiasaan dan nilai sosial yang mereka anut. Ia menekankan pentingnya mengenali makna suatu ungkapan agar peserta tidak hanya mengetahui kosakata, tetapi juga memahami pesan budaya yang terkandung di dalamnya.

“Setiap daerah memiliki kebiasaan dan cara berkomunikasi yang menjadi bagian dari identitas masyarakatnya. Dengan mengenal bahasa Banjar, peserta juga mempelajari nilai kesantunan dan penghormatan yang masyarakat jaga dalam kehidupan sehari-hari. Itulah yang ingin kami sampaikan melalui pelajaran Muatan Lokal,” terang Rahmat.

Lapas Narkotika Kelas IIA Karang Intan bekerja sama dengan PKBM Annisa Kecamatan Karang Intan untuk menyelenggarakan Program Pendidikan Kesetaraan Paket B bagi warga binaan yang belum menyelesaikan pendidikan setara Sekolah Menengah Pertama (SMP). Melalui pembelajaran Muatan Lokal, Lapas memberikan akses pendidikan yang memperkenalkan kekayaan budaya daerah sekaligus menambah pengetahuan warga binaan mengenai kehidupan sosial masyarakat Kalimantan Selatan.
Baca Juga:
Tersalin 👍

Berita Terbaru

  • Lestarikan Budaya Banua, Warga Binaan Lapas Narkotika Karang Intan Pelajari Bahasa Banjar
  • Lestarikan Budaya Banua, Warga Binaan Lapas Narkotika Karang Intan Pelajari Bahasa Banjar
  • Lestarikan Budaya Banua, Warga Binaan Lapas Narkotika Karang Intan Pelajari Bahasa Banjar
  • Lestarikan Budaya Banua, Warga Binaan Lapas Narkotika Karang Intan Pelajari Bahasa Banjar
  • Lestarikan Budaya Banua, Warga Binaan Lapas Narkotika Karang Intan Pelajari Bahasa Banjar
  • Lestarikan Budaya Banua, Warga Binaan Lapas Narkotika Karang Intan Pelajari Bahasa Banjar