Narasipublik – Rutan Kelas IIB Rantau melaksanakan kegiatan perawatan tanaman ketahanan pangan di lahan terbatas SAE pada Jumat (13/02). Perawatan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari penyiraman, pembersihan gulma, pemupukan organik, hingga pengecekan kondisi tanaman agar tetap tumbuh optimal dan siap panen sesuai target.
Kepala Rutan Rantau, Renaldi Hutagalung, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar aktivitas rutin, melainkan bagian dari strategi pembinaan yang berorientasi pada produktivitas dan kemandirian warga binaan. “Program ketahanan pangan di lahan terbatas ini menjadi sarana pembinaan yang konkret. Kami ingin warga binaan memiliki keterampilan yang bermanfaat, sekaligus menanamkan nilai disiplin dan tanggung jawab,” ujar Renaldi. Ia juga menambahkan bahwa optimalisasi lahan SAE menjadi bukti komitmen Rutan Rantau dalam mendukung program pembinaan berbasis hasil.
Sementara itu, Pengelola Pembimbingan Kemandirian, Angga Suma Wijaya, menjelaskan bahwa perawatan rutin menjadi kunci keberhasilan hasil panen. “Kami melakukan monitoring berkala untuk memastikan pertumbuhan tanaman tetap sehat. Warga binaan juga dibimbing secara teknis agar memahami cara perawatan yang benar, sehingga keterampilan ini dapat mereka manfaatkan setelah kembali ke masyarakat,” ungkap Angga. Menurutnya, pendekatan praktik langsung seperti ini efektif dalam membangun mental kerja dan rasa percaya diri warga binaan.
Kegiatan perawatan tanaman ini sejalan dengan dukungan terhadap 15 Program Aksi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, khususnya dalam aspek pemberdayaan warga binaan, penguatan ketahanan pangan, peningkatan kualitas pembinaan kemandirian, serta optimalisasi pemanfaatan sarana dan prasarana. Selain itu, program ini juga mendorong terciptanya lingkungan pemasyarakatan yang produktif, transparan, dan berdampak nyata bagi pembinaan yang berkelanjutan.
Melalui perawatan intensif di lahan terbatas SAE, Rutan Rantau terus berkomitmen menghadirkan pembinaan yang adaptif dan inovatif. Upaya ini tidak hanya mendukung ketahanan pangan internal, tetapi juga menjadi wujud nyata transformasi pemasyarakatan yang humanis dan berorientasi pada hasil, selaras dengan semangat reformasi birokrasi dan peningkatan kualitas layanan pemasyarakatan.
